Kamis, 15 Januari 2015

Percayalah Kepada TUHAN, Akuilah DIA, dan Takutlah KepadaNYA :)

Kamar Kost, 13.38 PM, Black and Gray
Kemarin olahraga pertama yang aku jalani di tahun 2015 ini... Rasanya senang sekali, ketika jantung mulai berpacu lebih kuat, ketika rangsangan dari hipotalamus menyebabkan kelenjar keringat mengeluarkan cairan keringat, ketika itulah tubuh menjadi sangat segar... ^^
Hari ini tidak bisa olahraga seperti kemarin, tp bersyukur keberadaan skipping bisa mendukungku untuk tetap berolahraga hari ini... hehehe
sebenarnya cerita olahraga diatas hanya sedikit basa basi sebelum aku bercerita hal yang sesungguhnya ingin kuceritakan...

Akhir-akhir ini, banyak orang yang sadar pada perubahan wajahku. Ya, perubahan yang diakibatkan oleh banyaknya jerawat -_-
Tidak dipungkiri, akhir" ini terlalu banyak hal yang aku pikirkan, terkadang karena terlalu banyaknya hal yang aku pikirkan, aku jadi memusingkan hal yang tidak perlu untuk dipusingkan, misal : pusing krn 2 kegiatan penting, yang harus dijalani kedua-duanya, tapi jadwalnya bentrok. Padahal, salah satu dari kegiatan itu acaranya bukan pada hari yang bentrok itu, melainkan besoknya, jadi intinya jadwalnya tidak bentrok.

Aku menyadari bagian ini pada diriku, bagian dimana aku sering menjadikan semua hal sebagai bahan pikiran dan dimana ada kesalahan, aku akan menyalahkan diriku, setidaknya begitulah yang dikatakan oleh ce Iis dari beberapa hasil tes ku. Hanya saja baru kali ini aku mengalami, banyaknya pikiran tegak lurus sama banyaknya jerawat.
Sebenarnya apa sih yang dipikirin van?
Kalau ada yang nanya kaya gini, aku cenderung ga bisa jawab, kenapa? Karena terlalu banyak yang dipikirkan, pikiran itu udah kaya benang kusut diotak, jadi terlalu susah dan ribet untuk menemukan ujung benang untuk diceritakan.
Aku bukanlah orang yang hobi cerita keorang-orang masalah apa yang aku hadapi, tapi aku juga bukan tipe orang yang bisa memendam masalah sendiri. So, kecendurang yang akan terjadi, aku bakalan keluarin semuanya dalam kondisi ceritanya udah panjang, kondisinya udah ribet, dan biasanya dalam kondisi emosional (terlalu sedih atau kesal), biasanya sih orang-orang bilang kondisi ini kondisi 'muntab'.
Saat ini aku belum dalam kondisi muntab itu, tapi aku belajar untuk mempertimbangkan hal-hal yang aku pikirkan dengan sharing dengan orang-orang yang menurutku bisa kupercaya dan memberikan solusi yang netral, dan benar, cenderungnya sama orang yang disebut kakak rohani. Tapi, kemarin aku belajar bahwa serohani-rohaninya kakak rohani ga ada yang bisa memberikanmu saran dan solusi sebaik TUHAN. Mungkin secara teori semua orang tau hal ini, tapi aku baru benar-benar mengerti ketika mengalami hal ini. Kenapa? Karena ada kalanya kakak rohanimu tidak netral dan tidak peka terhadap apa yang kamu pergumulkan. Bahkan menuntut hal yang diluar pikiran. Kalau kemarin respon ku kecewa, maka hari ini aku mau merubah responku menjadi bersyukur. Bersyukur bisa diingatkan hal itu, diingatkan serohani-rohaninya kakak rohani, dia bukanlah dewa yang pasti sempurna, pasti selalu bisa diandalkan dan pasti selalu bisa dijadikan tempat sandaran. Bersyukur diingatkan bahwa hal ini HANYA bisa aku lakukan pada TUHAN. Ya, bersyukur untuk Yesus yang tidak hanya mati untuk menebus dosa untuk menyelamatkan manusia dari maut, tapi juga bersyukur bahwasanya untuk selamanya kasih setiaNya. :') Kenapa hari ini responku bisa berubah? Karena Amsal 3 yang aku baca pagi ini... :') Aku mau membagi perenungan ini, tapi menurutku setiap orang bisa mendapatkan pelajaran yang berbeda-beda dari pembacaan Firman, maka aku memutuskan untuk membagi Amsal 3 secara full dan berharap kalian yang membacanya memperoleh pelajaran, pengharapan dan penghiburan seperti aku. :)









Maka, diakhir pembacaan Amsal 3 hari ini, aku memutuskan untuk menghapalkan ayat yang menegurku , memberiku pengharapan dan penghiburan itu... yaitu ayat ini...


 Masalah dan pilihan yang harus dipergumulkan memang masih tetap ada, kondisinya pun belum berubah. Tapi pola pikir, kesiapan hati, dan kondisi jiwa si pemilik pergumulan ini telah berubah. Dia tidak lagi bersandar kepada pengertiannya dan tidak lagi memikul sendiri masalahnya, karena dia mau percaya dengan segenap hati kepada TUHAN yang memikul bagian 'kuk' yang lebih besar yang berdiri tepat disebelahnya.


PERCAYALAH KEPADA TUHAN, AKUILAH DIA, DAN TAKUTLAH KEPADANYA!  
Happy Friday... :)



























Tidak ada komentar:

Posting Komentar