Minggu, 25 Januari 2015

Hari Minggu yang sangat terang

Kamar Kost, 19.20, Black and Black
 
Hari ini adalah hari yang sangat tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Hari yang cukup tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata (berlebihan sepertinya, hehe), kenapa? Karena hari ini, aku belajar banyak hal, dan hari ini suasana kota Surabaya terasa sama seperti kota dimana aku tumbuh (Takengon). J Tadi malam, aku mendapat chat dari seorang abang yang sudah seperti abangku sendiri, bang Helvry namanya. Beliau adalah salah satu dari banyak abang dan kakak from different parent yang aku punya. Ya, Takengon adalah suatu kota dimana kami semua lahir, sekolah, dan bertumbuh bersama, namun dengan berbagai macam alasan, saat ini kami tidak lagi disana, bukan orang tua kami setidaknya. Dalam proses merantau kami, kota yang terkenal dengan kopi gayonya dan dinginnya yang menusuk tulang itu, tidak akan pernah terlupakan.

Nah, kembali ke bang Epy (begitulah kami adik”nya memanggilnya). Semalam aku pikir, hari ini kami hanya dapat sharing dan bercerita di stasiun gubeng, sebelum kepulangannya bang Epy ke Bandung, tapi ternyata bisa jauh lebih seru dari itu *senyum lebar*

Yang pertama, suasana beribadah hari ini seakan-akan seperti gereja di jalan Blang Kolak, Aceh Tengah. Why? Karena aku ibadah bareng bang Epy hari ini, aroma” Takengonnya sangat kuat. (hehehe) jadi kangen dengan bapak dan mamak.

Nah dalam ibadah hari ini aku belajar hal yang pertama, yaitu tentang terang yang mencelikkan mata kita yang buta. Bukan sekedar terang, tapi Terang yang kupelajari hari ini adalah Sang Pemberi terang yang menjadi Terang itu sendiri.

Hal yang sangat menamparku hari ini adalah bagian dimana Pdt. Hadyan Tanwikara berkata hal yang ingin Yesus hilangkan dari hidup kita adalah kegelapan yang menggelapkan mata kita, kegelapan yang membuat kita menjadi manusia yang hanya bisa melihat orang lain dari sisi gelap mereka. Benar juga kata pendeta dari GKI Gejayan, Jogja ini (baca:tempat aku beribadah selama tinggal di Jogja). Kita seringkali sangat ‘peka’ melihat sisi gelap orang lain, lalu menceritakan kegelapan orang itu, agar kita bisa terlihat terang. Menceritakan kejelekannya, agar saya terlihat baik. Proses hakim-menghakimi yang pastinya semua orang, termasuk saya pernah bahkan sering lakukan.

Dalam kegelapan mata dan hidup kita, Yesus yang adalah Sang Terang datang untuk membagikan terangNya bagi kita, supaya kita bisa melihat hal yang jauh lebih indah dan benar. Semua orang butuh Terang, caranya hanya mengikuti Sang Terang itu secara terus menerus, dan berjalan terus menerus dibelakang Sang Terang. Karena, hanya didalam teranglah kita memiliki tujuan, semangat dan ketaatan secara terus menerus. Kegelapan bukan hanya berbicara tentang dosa, tapi kegelapan yang paling utama berbicara tentang hidup yang dijalani TANPA TUJUAN (baik secara hidup didalam dunia, maupun secara kekekalan).

Hiduplah dalam terang Kristus kawan, jangan biarkan dunia berada diantara kamu dan Kristus, lalu menghalangi kamu untuk menerima terang itu. Tapi hiduplah tepat didalam terang itu, bertujuan hidup padaNya, semangat didalamNya, dan taatlah kepadaNya.

Pelajaran kedua yang aku dapat hari ini, adalah kegelapan yang memiskinkan wawasan manusia. Kegelapan itu bernama jarang membaca buku (baca:selain buku pelajaran, yang memang menjadi tuntutan untuk dibaca).

Mungkin kegelapan yang aku punya bukan jarang membaca buku, aku termasuk orang yang suka membaca buku, hanya saja sangat miskin wawasan tentang buku. Selain buku dari tuntutan studi, literatur perkantas, SAAT, dan momentum, bisa dibilang aku tidak pernah membaca buku. Sangat miskin dan hampir buta bukan? 

Nah, hari ini bang Epy mengajakku ketemu dengan seorang temannya, dia adalah anggota yang sudah dikenal secara internasional dari komunitas mereka, komunitas blogger buku indonesia namanya. Bertemu dengan ce Fanda dan bang Epy hari ini, membuka banyak wawasanku tentang buku. Tentang buku klasik, filosofi-filosofi, cara beli dan nawar buku dilapak buku bekas, sistem pendidikan Indonesia tercinta ini yang sangat jauh dari filsafat, pelajaran teori Akuntansi misalnya, kenapa pendapatan itu bisa terjadi? Kenapa proses perpindahan hak pada harta dikatakan pendapatan? Sepertinya tidak pernah membahas hal ini diruang persegi penuh bangku dan satu panggung itu. Adanya, belajar sejarah yang tidak jelas, berujung pada paksaan harus dihapal, lalu selesai di soal ujian berbentuk pilihan berganda atau essay yang jawabannya bersifat ‘pasti’. Akhirnya teori akuntansi menjadi salah satu pelajaran yang cukup membosankan bagi mahasiswa akuntansi. Topik pembicaraan yang cukup luas sampai tentang apa salahnya seseorang hidup single (tidak pernah pacaran sekalipun) selama 23 tahun dan belum menikah pada usia 32 tahun atas pilihan sendiri? Ada banyak hal didalam hidup yang dijadikan standar atau patokan kesuksesan, yang sebenarnya tidak masuk akal.

Sebagai orang yang terkenal gutul (baca: bahasa karo bandel) dikalangan para Takengon’ers, tidak menyangka bisa ngobrol hal seluas dan sejauh ini dengan bang Epy.
Hari ini juga, terbukti sudah kecupuanku. Selama kurang lebih empat tahun hidup di Surabaya, ini pertama kalinya aku tahu ada tempat bernama Kampung Ilmu (di Jl. Semarang), kalo ga karena bang Epy, mungkin sampe aku meninggalkan Surabaya pun, aku ga akan pernah tau tempat seperti Kampung Ilmu. Ah, cupunya aku. Hehehe

Terakhir, bukan hanya wawasan, obrolan, aroma Takengon, solusi atas studi + profesi, dan makanan yang aku dapat dalam paket quality time sama bang Epy hari ini, tetapi 2 buku fiksi klasik + beberapa pembatas buku ala bbi (blogger buku Indonesia) dan satu doggy bag perpus UI juga aku dapatkan.

Wah, betapa penuh berkahnya hari ini Tuhan. Bukan hanya belajar terang, tapi juga mengalami terang dari Sang Terang itu sendiri. Melihat komunitas-komunits seperti ini aku melihat, ada banyak orang keren yang dibalut dengan kesederhanaan dan gaya yang cukup biasa. Tapi wawasannya, ga tergantikan deh sama materi sebesar apapun.

Tuhan, hari ini seperti hadiah untuk pembaca buku kertas dan blogger level dibawah awam seperti saya *smile*
Terima kasih... *smile*


Buku Fiksi Klasik Pertamaku :)

2 komentar:

  1. Wow...luar biasa...jadi terharu
    semangat christine :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, dpt komen dari blogger super senior nih.. ^^
      Butuh sapu tangan ga bang? Hehehe
      Yoi bang, semangat juga bang Epy!! :D

      Hapus