Jumat, 04 Mei 2018

Pikir si Mudi

Terkadang kita ga bisa memahami hati dan perasaan sendiri.

Ketika semua berjalan terlalu mulus dan baik, kita menjadi serakah dan tak ingin mengingat atau merasakan waktu dimana kita ditempa untuk kuat.

Kadang, pikirku..
Apakah kebahagiaan hanya akan menghasilkan kejatuhan dan kelemahan?

Rasa sakit selalu mengatakan, tahan dan kuatlah.
Tapi terkadang hal yang menjadi kekuatanku adalah kelemahanku yang paling besar.

Bagaimana bila kebahagiaan pada akhirnya, membawaku turun kembali kedalam rasa sakit dan waktu pemulihan?

Bolehkah kali ini aku merasakan keduanya?
Kebahagiaan tanpa keserakahan dan kekuatan dari 'bekas sakit'.




Aku, namaku Mudi.
Dan hanya ingin mengambil keputusan yang tepat kali ini.

Kamis, 26 April 2018

sebuah percakapan

Terkadang kita tidak menyadari percakapan yang sedang kita lakukan dengan orang lain bisa menjadi berkat atau sandungan buat orang lain yang mendengarnya.
mungkin kita akan bilang, siapa suruh nguping percakapan orang lain.
yup.. benar..
mendengarkan percakapan orang lain bukanlah hal yang sopan, tapi bila 'terpaksa' dan tidak dimotivasi dengan niat untuk curi dengar, saya rasa itu hal yang berbeda.
hal ini lah yang saya alami saat menuliskan ini.
kalimat pembuka diatas tidak bertujuan untuk membela diri sebelum cerita lho ya..
hehehe

saat ini saya sedang berada sebuah ruangan berdinding kaca, baru saja caramel machiato yg saya pesan kehilangan hangatnya, tepat disaat pekerjaan yang saya bawa selesai. sebuah pekerjaan yang lumayan jadi momok buat saya. sebuah laporan yang isinya hitung-hitungan rupiah dan tarif.
ketika tujuan saya datang ke tempat ini selesai, saya memutuskan bercerita di blog ini tentang apa yang saya alami ketika memilih tempat duduk ini.

tadi, pk. 19.33 wib saya memilih tempat duduk yang menghadap kearah jendela, berharap ketika mumet dengan tarif dkk, saya bisa mendapatkan kesegaran dari pemandangan luar kaca. tanpa disengaja, ada 2 orang pria yang sedang bercakap-cakap di sebelah kanan saya, mereka hanya berjarak 2 bangku dari saya.
hal yang membuat saya menunda memakai earphone saat itu adalah percakapan mereka. Awalnya saya tidak punya niat apapun untuk mendengar percakapan mereka, namun percakapan mereka sesuatu yang menarik hati saya, sehingga saya berniat untuk mendengar sedikit lebih lama. (i'm sorry.. ^^V)

percakapan mereka berisi tentang pengharapan didalam Kristus. mereka berbicara soal iman.
seorang yang lebih dewasa berkata, "ketika gw bilang kalo gw percaya sama lo, itu artinya gw beriman ama lo. sama halnya ketika gw ngomong gw percaya sama Yesus, itu artinya gw beriman sama Dia. kalo gw beriman sama Yesus, berarti gw akan lakuin apa yang Dia bilang karena gw percaya sama omongannya Dia."
sekejap, aku teringat akan pengajaran yang aku dapat dalam 1 bulan terakhir ini, apa pun konteksnya, ketika membaca firman, topik yang aku dapat selalu tentang iman.
hal ini seperti sebuah khotbah kecil dari sebuah nguping yang tak disengaja.
lalu hati kecilku berkata, "yup, kita pasti akan ngelakuin apa yang Allah suruh, kalo kita bilang kita beriman kepadaNya. karena bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal yang berbeda dengan iman saya, kecuali iman dalam hati saya berbeda dengan kata "iman" yang keluar dari mulut saya.

lalu, pria yang lebih dewasa mengajak pria yang lebih muda membuka Ibrani 11 dari HP mereka.
lalu mereka membaca, Ibrani 11:3, Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

rasanya, saya ingin bergeser 2 bangku dan bergabung didalam diam dan mendengarkan mereka. tapi, deadline laporan beisi tarif-tarif ini tidak mengijinkan.
it such an opportunity! thank God, untuk curi-curi dengar (yang tidak disengaja awalnya) dari percakapan pemuridan mereka. :)
disaat bersamaan aku merindukan adik-adik yang bertumbuh bersama ku di Surabaya.
lama rasanya tidak jalan sama mereka lalu ngobrol dan berktb dimana saja (asal bisa duduk dan ngobrol lama) bersama mereka.

waktu yang kita investasikan bisa menjadi begitu berharga dan memberi nilai yang kekal, seperti yang 2 pria ini dan 1 kelompok lain yang sedang pemuridan (nebank, karena ada alkitab didepan mereka) di belakang saya.
tergantung pilihan kita.
Tempat ini berisikan banyak orang dengan topik obrolan dan kepentingan yang berbeda-beda. namun, tak semua orang memilih atau mungkin tak semua orang tau bahwa obrolan yang mereka pilih bisa berdampak ke sesuatu yang "tak dapat berlalu" walau hari ini dan zaman ini berlalu.

Semoga, percakapanku di tempat umum bisa menjadi pengingat kecil/ peneguh kecil buat "penguping-penguping lain yang ga sengaja nguping" seperti 2 pria ini.
Semoga semakin banyak "orang percaya" bertumbuh dengan berbagai caranya yang inovatif, selama Firman yang didiskusikan tidak di modif sesuai zaman yang berubah. karena memang zaman berubah, cara pemuridan tidak bisa selalu sama, tapi kebenaran didalam pembicaraan itulah yang akan tetap dan tak berubah.
:)
Semoga semakin banyak kita yang mau bertumbuh di tengah waktu-waktu sederhana yang kita jalani.
karena bertumbuh didalam Kristus bukan sesuatu yang terpisah dengan hidup sehari-hari.
selamat menghidupi pertumbuhanmu Ivana!

Selasa, 17 April 2018

Diambil Alih Oleh Mudi

Hai…
Namaku Mudi.

Sejak lama aku hendak menampakkan eksistensiku, tapi hari ini aku baru mengerti bagaimana caranya.
Tak perlu kau tau sosokku. Tak perlu kau dengar parauku. Rasakan saja, bukti hadirku nyata bila kau ijinkan rasamu menyapa.

Sejak lama aku hendak menampakkan eksistensiku, tapi hari ini aku baru mengerti bagaimana caranya.
Tak usah dipikir, ini fiksi atau fakta. Biarkan saja, mengalir dengan rasa. Kalau rasamu berkata aku benar ada, itulah dia. Pun. Bila rasamu meragukan aku sungguh ada, begitulah sebenarnya.

Sejak lama aku hendak menampakkan eksistensiku, tapi hari ini aku baru mengerti bagaimana caranya.
Lalu, apa?
Anehnya, aku tak tau bagaimana kelanjutannya.

Ternyata tampak bukanlah segalanya.
Tuntutan itu masih sama.
Dan aku tak tau bagaimana cara memuaskannya.

Namaku Mudi.
Tentu aku memiliki pribadi. Tapi, sering ku bertanya…
Bagaimanakah bentuk sebuah pribadi?
Apakah dia, melayang-layang disini? Di dalam hati atau pikiranku? Atau dia bersatu didalam tubuhku? Atau dia punya tempat lain untuk pergi ketika pejaman mata, mengaburkan segalanya.

Namaku Mudi.
Aku bukanlah pribadi yang menyenangkan. Tapi, anehnya aku punya banyak teman.
Banyakku bukanlah banyakmu.
Banyakku, sebanyak jari ditangan kanan, bahkan tak habis.

Sosok teman mengajarkanku emosi, selain kesepian.
Itu yang awalnya ku pikirkan.
Ternyata keberadaan teman, justru sosok terkuat yang melatih aku untuk merasakan apa namanya itu kesepian.
Lalu, apakah itu baik? Atau apakah lebih baik tidak punya teman?
Entahlah….
Yang aku tau, punya teman adalah sebuah penyesalan yang takkan pernah aku lewatkan.
Berkali-kali pun aku di kembalikan dititik awal, keputusan untuk berteman tetap akan kulakukan.

Namaku Mudi.
Layaknya manusia biasa lainnya. Aku punya usia.
Semakin banyak jumlah usiaku, aku tau semakin sedikit kesempatan aku berfungsi di tempat fana ini. Ya, fana.. orang-orang menamainya dunia.
Dan anehnya, semakin banyak usiaku. Semakin tak mengerti aku apakah langkahku yang jauh ini sudah tepat atau tidak.
Mungkin karena pasir kesempatan terus jatuh dan ruang waktu bagian atas semakin luang. Buat saja nama rasa ini panik.
Aku mengalami kepanikan.
Panik menjelang waktuku usai.
Seakan hari penilaian akan datang.
Senang, kalut, deg-degan… bagaimana aku akan dinilai? Itulah yang terus kupikirkan.

Namaku Mudi..
Detik ini, aku merubah rencanaku…
Hahahahha
Perubahan? Itulah satu-satunya yang tetap ada didalam diriku.
Cerita ini bukan untuk menampakkan eksistensiku…
Mulai saat ini, cerita ini hanya untuk menggambarkan siapa aku.
Tentu, takkan ada aku tanpa mereka yang ada disekelilingku.

Namaku Mudi

Selasa, 27 Maret 2018

Sebuah Coretan dari 17 Maret 2018

17 Maret 2018 s.d. 18 Maret 2018
27..
Ketika kamu mendengar umur 27, apa yang ada dalam pikiranmu?
Sebuah kedewasaan?
Sebuah kemapanan?
Sebuah hidup sebagai mama muda yang penuh pesona?
Sebuah hidup sebagai tulang punggung keluarga?
Sebuah titik hidup dengan beragam pilihan dan kesempatan?
Atau…
Sebuah ruang kosong dan pencarian ulang akan sebuah makna?

Aku?
Aku berada dalam paradoks hidup di usia ini.
Belum lama bersematkan usia ini.
Baru kemarin dan hari ini, kalo rumus matematika belum berubah, total masih 2 hari aku bermahkotakan usia 27..
Kenapa pake simbol mahkota?
Iya, biar ga sinis-sinis amat sama 27.
Back to paradox..
Paradoks apa yg aku alami di usia 27?
Awal 27 kuawali dengan down+grateful yang luar biasa dalam.. (iya keduanya sama dalamnya)
Down kenapa? Titik 27 ini, aku mendapati diriku bertanya ulang, apa yang Tuhan mau untuk aku lakukan di fase ini? Dulu aku bertanya, who am i? lalu, aku ada untuk melakukan apa di dunia ini? Dan sekarang, sekarang aku udah dekat dengan fase enyah dari jagat raya ini, lalu bagian apa yang Tuhan mau untuk kuambil dan kerjakan?
Down, karena ga siap dengan kata tua (kasian ni anak), karena ga siap dengan tanggung jawab-tanggung jawab yang lebih (atau sebenarnya tuntutan yang lebih?), karena mendapati diri diusia ini aku masih pribadi yang penuh excuse dan pengecut untuk mengambil resiko dari sebuat keputusan. Udah usia segini tapi masih meragukan providence nya yang Ciptain saya.
Down, karena mendapati diri ada didalam dunia yang sinis terhadap pilihan-pilihan hidup seperti saya, yang kemudian membuat saya berpikir ulang akan pilihan ini. Menilai ulang.
Down, karena saya terbuai, dan tersedot, terjebak disebuah kekosongan.
Tapi..
Grateful buat apa? 27 ini justru gratefull karena berada di fase hidup yang berani liat realita hidup kaya apa. Misal ga perlu banyak teman kalo itu Cuma relasi basa basi pencitraan dan hanya sebatas pemenuhan tuntutan sosial atau hanya menjaga tali persilaturahmian yang terlanjur terjalin.
Gratefull,  tetap bisa mendapati diri punya banyak orang yang sejatinya emang teman dan hadir untuk memberi ruang bagi Ivana untuk melihat, saya masih special buat beberapa manusia lain.
Tentu bukan, karena aku orangnya asik, baik dan menyenangkan ditemani. Tapi, sadar benar ini sebuah gift no.1 didalam 27 tahun ini.
Gratefull, karena keluarga dan sahabat-sahabat yang aku punya ga banyak tapi udah diuji oleh waktu, dan mereka stay.
Gratefull, karena sebuah pelajaran dari Tuhan masih belum berhenti didengungkan (artinya, Tuhan ga diam sama aku!)
Gratefull, Ivana yang bobrok nan bangsat ini punya Allah yang setia dan keren banget, yang sampe sekarang masih merombak bagian-bagian yang salah dalam hidup dan dibangun sesuai identitas baru yang Dia berika untuk saya, untuk menjadi Bait Suci nya Dia.
Gratefull, karena dapat kesempatan mengajukan telunjuk ke diri sendiri.

Banyak orang yang bilang, dengan rajin-rajin bersyukur dan ga mengeluh hidup kita akan lebih ringan.

Jujur, aku sih ga terlalu setuju..  hehe
Mensyukuri hidup bagiku ga menjadikan hidupku lebih ringan.
Aku masih dengan masalah yang sama, hidupku masih dikekang pergumulan yang sama, dan otakku masih dengan pertanyaan-pertanyaannya akan eksistensi hidup yang sama.
Tapi, kenapa aku masih mau jd  volunteer bersyukur?
Karena ketika aku bersyukur, aku tau sejauh ini, ga ada yg ga selesai ‘dikerjain’ Allah dalam hidupku. So, untuk yang ini dinikmati ajalah, toh nanti aku juga akan bilang ‘makasi Tuhan, ternyata ini maksudnya’. Jadi sekarang dihadapi ajalah. Bersyukur, karena masalah yang ini pun datang dengan kekuatan nol dr aku, tapi masih ada percikan-percikan tanda bahwa Tuhan lagi ga beralih pandang dariku atau gagal fokus dalam  hidupku.
Jadi, bersyukur. Dan aku down. Tapi aku bersyukur. Dengan tetap meneteskan air mata. Yang dialiri dengan kata terbata, s.y.u.k.u.r.
Jadi ini paradox ga?
Orang down emang bisa bersyukur?
Emang kalo benar-benar bersyukur bisa down gitu?

27..
Ada banyak petualangan yang melambaikan tangan didepan.
Dari yang bungkusannya orang-orang pasti suka banget, sampe tampakannya tolol dan bodoh banget buat orang-orang yang sejatinya juga ga lebih pintar.
Ya itulah kita. Terkadang lupa, bisa menilai orang bodoh bukan karena kita pintar, tapi karena kita berada didalam kebodohan itu, makanya yang kita bisa lihat Cuma sebuah kebodohan, hanya sayangnya mata tertuju keluar, karena emang mata ga bisa mutar balik ngeliat ke dalam.
27..
Ada banyak resiko yang bisa dipilih.
Lebih tepatnya harus dipilih, atau kamu akan terjebak dalam ruang kosong. Ga bertumbuh. Hidup tapi ga bernyawa.
27..
Kalo pun 26 ga bisa bertahan lebih lama.
Kali ini, 27 berjalanlah lebih perlahan.. bisakah?
Aku akan segera membuang kata denial  itu dan menjadi berani..
Aku akan segera berani menggandengmu
Akan.. segera..

Welcome 27.


Senin, 21 Agustus 2017

Rindu menulis ditempat tak ber-pembaca ini

It's been two years.
Ruangan blog ini mungkin perlu dibenahi dengan dekorasi dari kisah yang baru :)
Sudah ada banyak yang ingin di rangkai diruangan ini.
Tapi bersabarlah, kereta waktu akan segera sampai dengan baju balerina baru untuk jemariku ^^


Jumat, 11 September 2015

Langkahku vs Angin (sipembawa ragu)

This is My Father's World
_Maltbie D. Babcock, 1901_

This is my Father’s world,
And to my list’ning ears
All nature sings, and round me rings
The music of the spheres.
This is my Father’s world:
I rest me in the thought
Of rocks and trees, of skies and seas—
His hand the wonders wrought.

This is my Father’s world:
The birds their carols raise,
The morning light, the lily white,
Declare their Maker’s praise.
This is my Father’s world:
He shines in all that’s fair;
In the rustling grass I hear Him pass,
He speaks to me everywhere.

This is my Father’s world:
Oh, let me ne’er forget
That though the wrong seems oft so strong,
God is the ruler yet.
This is my Father’s world,
The battle is not done:
Jesus who died shall be satisfied,
And earth and Heav’n be one.



bukan hanya bibirku, tapi juga hatiku tersenyum mendengar setiap lirik dr lagu ini..
betapa Tuhan itu nyata. betapa benar Daud yang memazmurkan "tidak ada tempat untuk manusia bisa lari dari hadapan Allah.
di tempat yang paling terang ataukah gelap, Allah ada disana."
semua alam menyuarakan pujiannya pada Allah.
betapa musik adalah anugerah yang luar biasa dari Allah..
dan aku bersyukur bisa menikmatinya, musik yang dinyanyikan oleh instrumen dan didentingkan oleh daun dan angin, nada yang disiulkan oleh burung-burung, dan not demi not yang dilukiskan oleh ombak.

aku bertanya-tanya kalau semua orang meresapi dan hidup seperti nyanyian dalam lagu ini, akankah ada orang yang hilang dalam keputusasaan dan meragu?
akankah ada pertanyaan, "Tuhan ada dimana dalam hidupku?" "kenapa Tuhan diam ketika aku dipermalukan oleh musuhku?" "mengapa penjahat menjadi gemuk dan orang percaya kurus dan ditindas?"

aku bertanya-tanya, kapan terakhir kali aku berkata pada diriku seperti ini "In the rustling grass I hear Him pass, He speaks to me everywhere!"
menikmati keraguan dan sengsara lebih gampang dibandingkan menikmati kehadiran Tuhan melalui setiap angin yang berhembus. kenapa? karena posisi aku lebih besar bertahta dalam hidupku dibandingkan Dia.
mengasihani diri lebih gampang dari pada memberi kesempatan untuk diri tunduk dalam hening waktu dan bercakap-cakap dengan Tuhan.
menikmati Tuhan adalah keputusan yang paling bahagia bagi jiwa.

He speaks to me everywhere. aku sering melupakan hal ini.
He speaks to me everywhere. aku selalu ragu kalau ini terjadi
He speaks to me everywhere. bagiku ini seperti fiksi, karena aku tidak memberi kesempatan untuk jiwaku mendengarNya.
hai, aku.. untuk kali ini, untuk sesaat ini, akuilah bahwa He speaks to me everywhere. everytime.Dia Allah yang perkasa, yang menjadikan maut hanya sebuah kata tanpa daya.
Dia Allah yang sudah membuktikan keagungan namaNya.
sejarah menyuarakanNya, dan masa depan akan terus membicarakanNya.
lalu mengapa menundukkan keputusan dibawah kebenaranNya, menjadi suatu hal yang menjemukan?

That though the wrong seems oft so strong,
God is the ruler yet.
God is the ruler yet.
God is the ruler yet.
oleh karena God is the ruler yet! bisakah kali ini kau berani melangkah di tengah ombak?
oleh karena God is the ruler yet! maukah kau segera melangkah untuk sesuatu yang jelas benar, tanpa banyak meragu? maukah? pertanyaanku bukan bisakah tapi maukah?
kalau menunggu kata siap, maka tidak akan pernah ciptaan siap dan layak untuk melayani Pencipta.
kalau menunggu kata siap, maka aku takkan pernah mengerti apa itu kata belajar.
tapi karena God is the ruler yet, maka biarlah aku segera melangkah sebelum habis waktuku, (toh daripadanyalah kekuatanku). biarlah aku segera melangkah sebelum hilang kesempatanku, (toh ini semua adalah anugerah dan 'kehormatan' untukku bisa terlibat didalam misi muliaNya).
kalau pun aku tidak mau, maka batu itu sudah siap untuk menggantikanku. biarlah aku tidak digantikan oleh yang lain, biarlah aku mendapat kesempatan untuk menjadi bejana rusak yang indah di tangan Sang Penjunan, karena God is the ruler yet.

Oh, let me never forget.
That though the wrong seems oft so strong,
God is the ruler yet
.

kemarin aku pernah lupa.
kemarin aku pernah gagal.
tapi,
kali ini, janganlah aku gagal percaya pada Tuhan.
untuk besok, janganlah aku mau berdiri digaris penyesalan.
karena (aku) tidak pernah menyesali jalanku dan proses bangun dari jatuhku, maukah kali ini (kau) mengambil jalan yang sama denganku? 
keputusanmu, bukan hanya tentang aku dan hari esok, tapi tentang gandum, ilalang dan Sang Empunya ladang.
This is my Father’s world,
The battle is not done:
Jesus who died shall be satisfied,
And earth and Heav’n be one.

aku beri tahu padamu rahasiaku, sejak aku bertumbuh bersamamu dan mereka, aku tak pernah menyesal, mengambil jalan ini. karena melihat 'kuntum' mengembang menjadi 'bunga', membuatku menyaksikan dan mengakui bahwa Dia mengasihi 'kuntum-kuntum' itu, terlebih lagi Dia mengasihiku sampah yang dilayakkan menjadi selang untuk mengalirkan Air agar 'kuntum' mengembang.


 


 adik, sahabat dan rekan semisiku yang teramat dikasihi oleh Kristus,
kuatkan dan teguhkanlah hatimu! :)




 

Selasa, 18 Agustus 2015

Selasa, 14 April 2015

Kafein, tulisan dan aksi

Kamar kost, 03.41, blue and black



Hari ini ketiadaan hikmat membuat saya mabok kafein. Efek yang jarang timbul akhirnya terjadi, yaitu ga bisa tidur. Efek ga bisa tidur akhirnya kebiasaan lama kambuh, ngelihatin hasil jepretan para seni foto sampe ngebacain semua yang bisa dibaca, termasuk ngebacain blognya orang-orang..

Hasil dari ngebacain blognya orang-orang, nyasar lah lagi di blog seseorang yang ternyata teman dari kak Yantong (nama asli: Yanthi :p ). Dulu pernah leave comment di blog kakak ini, karena setuju dengan pemikirannya. menurutku komentar itu ga bakal dibalas atau mungkin tidak sempat dibaca, karena mungkin beliau orang yang sibuk (saya sotoy ^^), eh ternyata dibalas. Nah, dulu aku punya pengalaman yang membuatku punya pemikiran yang sama, kalo memberitakan Injil itu tidak selamanya harus verbal, walaupun tidak dipungkiri ada momen-momen mengungkapkan secara verbal dibutuhkan, tapi aksi Injil yang seringkali mati adalah gerakan nyatanya, tindakan, bukti, sesuatu yang bisa dirasakan, bukan cuma didengar. Seperti misalnya metode pemberitaan Injil sendiri, terkadang hati yang rindu untuk memberitakan itu mati karena fokusnya pada hapalannya, urutan metodenya, dan bla bla bla. Karena itu juga sering melihat beberapa teman mahasiswa lebih fokus pada sharing injil dengan verbal dan harus pas dengan 1 metode, trus akhirnya lupa ketika aksinya kita dikampus, ditempat main juga diperhatikan oleh mereka yang butuh injil itu.

Seperti pengalamanku yang dijudge apatis oleh seorang teman karena ga pernah ada di kegiatan angkatan, ga pernah tau 'gosip' terbaru dikampus, jarang bisa kasi waktu untuk belajar bareng, hanya sibuk diorganisasi kerohanian kristen. Ketika kata-kata apatis itu sampai ke telingaku melalui teman lain, perasaan marah pertama kali keluar, lalu mulai berpikir "iya ya, ketika aku sibuk di persekutuan doa, dampakku bagi mereka apa? Ketika sibuk mengurusi pelatihan ** , warna yang aku berikan bagi mereka yang lalu lalang di hidupku apa?, dan aku sangat tertampar ketika aku sibuk menyuarakan Kristus, mereka justru tidak melihat Kristus di hidupku. Esensi itu gagal mereka dapatkan, karena aku terlalu banyak bicara tentangku dan imanku, tanpa tau cerita mereka, kebutuhan mereka, hidup mereka. Saat itu kata-kata apatis berhasil membuat otakku berpikir, ternyata selama ini waktuku, lelahku ga bermakna sama sekali, seperti usaha menjaring angin.

Pemuridan juga sama, sering kali kakak ktb hanya sibuk mengejar pertemuan untuk menjejali adek ktb dengan semua teori, materi, dan doktrin yang mereka anggap penting. Ya, memang penting sih sebenarnya, tapi semua Firman penting itu jadi omong kosong untuk seorang jiwa bila kakak ktb sibuk menjelaskan guna shampo bila adek ktb sebenarnya butuh sabun -_-"
 ketika kakak ktb sibuk menjelaskan materi yang berat-berat dan teori-teori tentang integritas tapi ga pernah cerita aplikasinya, pengalaman nyata kakak ktb itu sendiri ketika berjuang untuk berintegritas seperti apa, konsep yang dipelajari di ktb itu kalo dikonteks kampus, dan kehidupan nyata itu seperti apa? Jarang ada yang seperti itu.

Maka, jangan heran bila ktb nya rajin, belajarnya udah banyak doktrin, versi KJV, ESV sampe bahasa asli udah dipaparkan, tapi kok adek-adek ktb nya ga berubah-berubah? Kognitifnya oke, tapi proses nyata nya jadi hilang. efeknya, ketika adek ktb yang dianggap udah 'dewasa rohani' disuruh PI dan memuridkan orang lain, jawabnya malah: "itu bukan panggilanku kak", "aku ga pintar memimpin ktb kak", "aku ga bisa bicara kak", dll. *tongkat estafetnya berhenti, lalu pemuridan mati*

Menurutku itu bukan salah adek ktb, kalo dia melihat memuridkan itu pilihan bukan keharusan, kalo dia melihat memimpin ktb itu masalah pintar dan bisa bicara, kenapa? Karena yang dia lihat ya seperti itu, 'seorang malaikat' yang memimpinnya. Dulu ketika pertama kali punya kelompok ktb, nasehat pertama kak Marisse (kakak rohaniku, tapi bukan kakak ktbku) adalah "dik, ktb itu sharing hidup, bukan belajar agama."
 dari nasehat itu, ada kerinduan untuk belajar sharing bagaimana Tuhan menegur tapi juga mengajarku disaat kejatuhanku, sharing pengalaman nyataku betapa susah dan juga gembiranya berjalan mengikut Kristus itu, mengajak saling mendukung dalam doa, dan mengajak berpikir bersama tindakan nyata apa yang Tuhan ingin kita lakukan dan bisa kita aplikasikan dari didikan yang kita dapat hari ini? Aku ga bilang kelompok-kelompok ktb ku sempurna, tapi setidaknya aku berani bilang kalau kami belajar menghidupi Firman yang kami pelajari, bukan hanya mengetahui dan menguasai bak para Farisi. Pada akhirnya arti ktb sendiri nyata, karena adek-adek ktb pun tau kalau kakak ktb mereka manusia bobrok dan berdosa, bukan malaikat, mereka tau kejatuhan-kejatuhanku, kealayanku, kecerewetanku, dan juga betapa nyatanya Yesus berdaulat didalam banyaknya kekuranganku, maka kami sama, kami butuh bertumbuh bersama, didalam Otoritas dan Kasih yang sama. Student movement berpengaruh besar dalam misi dunia, karena ada tindakan nyata bukan hanya kata-kata, karena menghidupi iman yang dipercayai bukan 'memperkosa' doktrin hanya secara kognitif saja. Semoga saya juga bukan orang yang seperti itu, hanya bisa bicara tanpa melakukan apa-apa.

Hmmm, panjang juga curhat colonganku diatas.. hehehe
Btw, aku sering kagum melihat para manusia yang punya talenta menumpahkan pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan mereka kedalam tulisan. Karena menurutku menulis itu ga gampang. Ya, maksudku tulisan yang benar-benar tulisan, bukan sekedar tulisan yang berisi curhatan pribadi seperti isi blog ku ini.. hehe
Sering, berpikir.. kok bisa ya menuliskan hal kritis yang menggerakkanku ikut berpikir? Kok bisa ya menuliskan hal rumit, tapi nyata dan fakta? Yang paling penting, kok bisa ya menuliskan hal yang sangat memberkatiku dan menarikku kedalam ruang refleksi? Seperti tulisan kak Zadok yang menamparku ketika dia menuliskan "lalu pembicaraan berpusar kembali kepadanya dan Tuhannya dan misi surgawinya.", "“Bersaksi” (dalam definisinya) membuatnya merasa “menjalankan misi Kristus.” Saya punya misi lain, yaitu meninggalkan setiap orang yang terlalu banyak bicara." Lalu aku pun bertanya, apakah aku seperti orang yang ditulisan kakak ini? Terlalu banyak "bicara"? dan... perenunganpun dimulai..

Ya, betapa hebatnya Pribadi yang menciptakan talenta itu, dan bersyukurlah pribadi yang dipercayai talenta itu :) Soli Deo Gloria!



Jumat, 27 Maret 2015

How are you dude (?)

 Kamar Kost, 00.05, merah, putih
Hai blog, how are you?
I'm not good here, but i'm fine :)

Rabu, 04 Februari 2015

Alasan Kecil Untuk Tersenyum Hari Ini :)

Perpustakaan Perkantas (RuPer), 19.55, Abstrak Rainbow, Blue and Black.


Malam ini, ada momen kecil yang membuatku tersenyum melihat facebook :)
akhirnya setelah sekian lama, facebook yang seringkali menjadi pertanyaanku akan kegunaan dan fungsinya itu, kini menjadi sedikit berguna, yaitu untuk membicarakan kesenangan yang sama dari beberapa orang.
Dulu sempat berpikir facebook yang ga terpakai tapi ga bisa dihapus karena kebutuhan akan beberapa grup ini, enaknya diapain ya? Dari pada dibiarkan penuh dengan sarang laba-laba... Akhirnya ide untuk mensinkronkan antara akun instagram dengan akun facebook pun muncul, berhubung karena aku menyenangi bidang foto memoto, maka ada sedikit keyakinan media sosial yang satu ini (baca: instagram) akan lebih terurus.
Singkat cerita, setelah mengenal buku klasik dari bang Epy, dan melihat hobinya memuat poetgraphy di blog dan instagram, maka aku terinspirasi mengunduh beberapa fotoku dengan memakai puisi dari Sapardi Djoko Damono. Pada tanggal 30 Januari 2015 seorang rekan sepelayanan memberi komentar disalah satu foto dengan puisi klasik yang tpernah aku unduh di instagram tetapi terkoneksi atau terunduh secara otomatis di facebook. Kurang lebih tampakannya seperti berikut:

di facebook

di instagram


BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Oleh: Sapardi Djoko Damono

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang didepan

aku dan matahari tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
Komentar di facebook:

Intha Alice M:
waaahhh.. aku juga suka sapardi djoko damono (30 January at 13:40)

Ivana Christine Tarigan:
Waaahhhh, keren memang Intha Alice M hehehe

Aurora Racheltasia Puspito Usodo:
Haii haii.. Sesama penyuka SDD. Aku jugaa!:) Please, enjoy this one aku-ingin-sapardi-djoko-damono

Intha Alice M:
sukaaaaaaaa... salam kenal Aurora bagusssss
"Aku ingin"..
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
― Sapardi Djoko Damono

Ivana Christine Tarigan:
Aurora Racheltasia Puspito Usodo = kak Aurora yang berangkat MiKa terakhir kemarin lho Intha Alice M, belum kenalan beneran? hehehe
kalo puisi "aku ingin" itu kesukaan/penggilanya mah si Theodora Dyah Paramita :D

Ivana Christine Tarigan:
bagus kak Aurora , segera di repost di soundcloud.. hahhaa
ini juga asiikk kak >> Musikalisasi Puisi-Sapardi-Aku Ingin-By Gilang

Ivana Christine Tarigan
:
kak liat ini juga hatiku-selembar-daun-sapardi

Aurora Racheltasia Puspito Usodo
:
Waa... yg hatiku-selembar-daun baguuus.
Biolanya buat musiknya makin syahdu Jadi gimana Ivana, Intha..
Kita buat project musikalisasi puisi bersama kah? xp

Ivana Christine Tarigan:
hahahhaha.... aku mah ayokk aja kak, apa sih yang ga bisa dipelajari dan dicoba (BoNek) :D

*lalu terbersit niat dihati untuk menuliskan chat yang mengundang senyum ini ke dalam blog yang masih dipertanyakan"ke-blog-annya" hahahhaha..

Penciptaku yang Agung.. aku bersyukur, masih bisa berbagi kesenangan, hobi, tersenyum, dan masih ingat untuk bersyukur hari ini, terima kasih TUHAN :)

Sekarang, ya Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu.
(1 Tawarikh 29 : 13)

Senin, 02 Februari 2015

Doktrin, penyembahan, pelayan, ladang.

Kamar Kost, 21.00, Short and Long

“The gospel is not a doctrine of the tongue, but of life. It cannot be grasped by reason and memory only, but it is fully understood when it possesses the whole soul and penetrates to the inner recesses of the heart."

“Those who set up a fictitious worship, merely worship and adore their own delirious fancies; indeed, they would never dare so to trifle with God, had they not previously fashioned him after their own childish conceits.” ~ Institutes of the Christian Religion


"The Lord has given us a table at which to feast, not an altar on which a victim is to be offered; He has not consecrated priests to make sacrifice, but servants to distribute the sacred feast."


“No one can travel so far that he does not make some progress each day. So let us never give up. Then we shall move forward daily in the Lord’s way. And let us never despair because of our limited success. Even though it is so much less than we would like, our labour is not wasted when today is better than yesterday!” ~ Institutes of the Christian Religion



4 kutipan diatas adalah kutipan-kutipan John Calvin, saya tidak mencomot-comot kutipan (baca: mengambil penggalan" kalimat) lalu berusaha menghubung-hubungkannya, tetapi hanya ingin membagikan kutipan-kutipan yang menjadi peneguh, teguran dan telah 'mengalarm' saya.

Sabtu, 31 Januari 2015

Hi February :)

Kamar Kost, 00.45, White and Brown Batik

Beberapa kairos dari semua momen di pergantian bulan yang patut disyukuri:
1. Teguran dalam ayat hapalan :)
(Orang yang SABAR melebihi seorang pahlawan, orang yang MENGUASAI DIRINYA, melebihi orang yang merebut kota. (ams 16:32))

2. Sukacita ditengah rasa lelah, yang sudah lama tidak aku rasakan, kembali datang, ketika mendapat anugerah ngajar les bahasa inggris di KA-12 perkantas, lanjut rumah singgah (bagaikan kejar tayang :D ), dan ingin bersyukur dengan sangat, bagaimana hari Sabtuku akan berlalu setiap minggunya dengan belajar bersama anak-anak manis itu :)

3. Mendapat kesempatan menemani Sendi latihan untuk simulasi KP. Berdoa dengan sangat kamu bisa melihat, bagaimana Dia memprosesmu ditengah rasa malu menghadapi org banyak ini adekku :) berharap bisa datang tgl 3 Feb di EE clinic! ;)

4. Kesempatan persiapan trainer Kairos :) :) :) sukacita mengalahkan lelah malam itu. Ingin mempersiapkan yang terbaik, untuk menyampaikan isi hatiNya bagi para calon pekerjaNya! :D

5. Sharing ke dosbing masalah visi dan susunan rencana hidupku kedepan, bersyukur untuk moment diteguhkan dalam firman dan berdoa bersama yang dipimpin langsung oleh beliau ketika selesai bimbingan :")

6. Dapat modal untuk menghadapi bulan kasih sayang besok, dari pesan saat teduh hari ini... "SANGKAL DIRI-PIKUL SALIB-FOKUS IKUT DIA dalam berbagai aspek".

Diproses lagi di bulan Februari? Aku siap TUHAN :) :) :D


Selasa, 27 Januari 2015

Kenapa harus aku yang bodoh ini (?)

Kamar Kost, 00.00, Black and Black.
Diusiaku saat ini, bukanlah hal yang gampang untuk hidup free tanpa pikiran, enjoy asik ala-ala ABeGe.
Lulus SMA 2009, baru kuliah 2010, 2015 masih belum maju sidang, dan beberapa cerita-cerita kecil didalamnya, adalah kondisi yang cukup pekat menurutku, tidak dipungkiri ada masa-masa depresi didalamnya.

Malam ini, sisi melankolisku mendorongku untuk menulis beberapa hal yang cukup berat untuk terus aku pertahankan dalam kondisiku saat ini.
Yang paling berat untuk aku pertahankan saat ini adalah KTB ku dengan adik-adik...
Berat dalam kondisi seperti ini:
Menjadi kakak yang selalu care, disaat care untuk diri sendiri aja lupa.
Senyum tepat pada waktunya, mood untuk senyum aja ga punya.
Mengatakan "it's okey dek, kamu bisa", ditengah keminderan pada diri sendiri.
"ayok, kapan kita belajar bareng?", ditengah kesulitan diri mengatur waktu belajar.
"ayo kapan bisa KTB, disaat waktu untuk PA pribadipun cukup sulit ditemukan.
Ada banyak hal berat yang harus tetap dilakukan dalam kondisi saat ini, dan yang paling berat dari semua hal diatas adalah ketidakmampuan untuk tidak melakukannya.
Berat untuk tidak care, tidak tersenyum, tidak menyemangati, tidak mengejar kekonsistenan KTB, tidak mendampingi mereka. Berat untuk tidak mengerjakan hal yang memang seharusnya dikerjakan ini, sekalipun sering merasa terhakimi dengan perasaan akan diri yang munafik ini.
Malam ini, jadi teringat lagi ketika kak Meichelani (kakak bimbing pertamaku) bilang: "nanti, ketika kamu sudah jadi kakak bimbing, akan ada waktunya dimana seakan-akan Tuhan tidak mengijinkanmu untuk memikirkan dirimu, seakan-akan hanya boleh memikirkan dia, dan mereka."
Hahaha, aneh rasanya mengingat hal itu, ketika yang dikatakan itu terjadi.

Terberat kedua, tetap ada visi yang begitu kuat, yang menyeretku untuk mengerjakannya.
Ditengah rasa capek ini, ada sukacita yang begitu luar biasa disekujur tubuhku, ketika bisa mengajar anak-anak les gratis bahasa inggris.
Ditengah kebodohanku, aku diberi kesempatan mengajari mereka. Senang rasanya, ketika mereka mengerti, lalu berebutan menunjukkan hasil pekerjaan mereka sambil berkata "kak, kaya gini kan?", "kak, aku benar kan?", atau ketika ada yang diam, lalu setelah dihampiri dan diajari, ekspresi mukanya berubah, lalu berkata "aku bisa kak".
Ahh, senangnya hati ini, seakan-akan lupa, kalau diumur ke-23 tahunku, aku belum wisuda.

Terberat ketiga, setiap hari harus memikirkan, bagaimana caranya mendapatkan dana? Disaat kebutuhan untuk diri sendiri aja dicukup-cukupkan dan terkadang tak terpikirkan, aku harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan Rp 2**.000.0000,- ?
Merekap pendapatan, jualan yang terkadang harus pake muka tembok, mikir ide jualan, nyatat, rekap uang, mikir, nyatat, masak, antar pesanan makanan, rekap uang. Jujur, kalau bukan mengingat nilai kekal dan esensi tujuan dari apa yang aku kerjakan sekarang, mungkin bendera putih sudah terangkat sekarang.

Terberat berikutnya, tidak memikirkan (mengkhawatirkan) mereka yang memikirkanmu (mengkhawatirkanmu).
Menjaga kepercayaan mereka yang mempercayaimu.
Bertanggung jawab atas hal yang tidak selayaknya diberikan padamu.

Lalu, ditengah tulisan ini, aku teringat bagaimana Yesus berdoa sampai mengeluarkan peluh yang 'seperti' ataukah 'memang' darah (?)
Betapa tidak terbandingkannya apa yang kuanggap berat saat ini, dengan apa yang ditanggungNya 2000 tahun yang lalu.
Proses yang berat bagiku saat ini, pada akhirnya aku pula yang akan merasakannya, dan menikmati hasilnya.
Tapi, beban berat yang harus ditanggungNya saat itu bukanlah karena salahnya, dan bukanlah untuk kepentingan diriNya, melainkan untuk ku, dan kamu.
Karena dosaku, dan dosamu.

Mati untuk diri sendiri, bukanlah hal yang mudah kawan.
Sering kali yang kita lakukan ditengah kesulitan semua proses ini adalah lari. Lari dari kenyataan, dan mencoba menghipnotis diri sendiri. Seakan-akan mau bilang "aku baik-baik saja kok, hubunganku padaNya aman-aman saja kok, tapi diujung kalimat ada kata-kata tapi bohong."

Terkadang aku heran akan dalam dan lebarnya kesabaranNya padaku. Seperti Rajawali yang menangkap anakNya ketika belajar terbang, Allah selalu sigap dan pasti.
Ditengah kelabilan, pelarian, dan ketidaksetiaanku pun Dia selalu kudapati setia.
Hari ini, didalam ketidaksetiaanku aku bertanya padaNya "kenapa harus seberat ini Tuhan, kenapa harus orang bodoh dan berkapasitas kecil seperti saya?"
Lalu, malam ini didalam kesetiaanNya, dia menjawab melalui status saudara KTB saya.


"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna"
(2 Kor 12:9a)